Variasi Jenis dan Keberadaan Jamur Ektomikoriza di Labanan, Provinsi Kalimantan Timur dan Implikasi terhadap Hutan Alam Dipterokarpa
DOI:
https://doi.org/10.59465/jpht.v19i2.790Kata Kunci:
Fungi, Kelimpahan, Keragaman, Saprofit, EfipitAbstrak
Keberadaan jamur ektomikoriza menjadi salah satu indikator yang menunjukkan hutan dalam kondisi baik. Konversi hutan alam menjadi peruntukkan lain akan mengubah iklim mikro dan bisa berdampak terhadap hilangnya jamur ektomikoriza. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan jamur ektomikoriza di Hutan Penelitian Labanan berdasarkan indeks kelimpahan, keanekaragaman, kemerataan, dominansi dan habitatnya. Metode penelitian menggunakan metode purposive sampling. Jumlah plot dibuat ada enam plot dengan ukuran plot 50 m x 50 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi jenis dan keberadaan jamur ektomikoriza di Hutan Penelitian Labanan termasuk rendah dikarenakan kondisi lingkungannya mulai terganggu. Hal ini ditunjukkan indeks keanekaragaman rendah, indeks kemerataan sedang, dan indeks dominasi spesies sedang. Untuk memulihkan kondisi hutan dipterokarpa tersebut, maka perlu pengayaan jenis dipterokarpa endemik yang telah berasosiasi dengan jamur ektomikoriza setempat. Jenis jamur ektomikoriza yang dominan adalah Amanita spreta dan Coltricia sp. Pada habitat saprofit terdapat 17 spesies (70,83%) sedangkan pada habitat epifit terdapat 7 spesies (29,17%).
Referensi
Ayunisa, S., Naemah, D., & Payung, D. (2020). Inventarisasi jamur makroskopis di KHDTK (Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus) Universitas Lambung Mangkurat. Jurnal Sylva Scienteae, 03(5), 945-953.
Brearley, F. (2011). The importance of ectomycorrhizas for the growth of dipterocarps and the efficacy of ectomycorrhizal inoculation schemes. chapter 1 the importance of ectomycorrhizas for the growth of dipterocarps and the efficacy of ectomycorrhizal inoculation s. in Springer - Verlag Berlin Heidelberg. Hal. 1-17. https://doi.org/10.1007/978-3-642-15196-5
Brearley, F.Q. (2012). Ectomycorrhizal associations of the Dipterocarpaceae. Biotropica, 44(5), 637–648. https:// doi.org/10.1111/j.1744-7429.2012.00862.x
Darwis, W., Ulandari, U., Wibowo, R., Sipriyadi, & Astuti, R.R.S. (2020). Biodiversitass fungi maksroskopis di sekitar kawasan Cagar Alam Tanjung Laksaha Pulau Enggano Bengkulu. Jurnal Bioedikasi, 11(1), 18-26.
Darwo, & Sugiarti, S. (2008). Beberapa jenis cendawan ektomikoriza di kawasan Hutan Sipirok, Tongkoh, dan Aek Nauli, Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 5(2), 157-173. https://doi.org/10.20886/ jphka.2008.5.2.157-173
Diagne, N., Thioulouse, J., Sanguin, H., Prin, Y., Krasova-Wade, T., Sylla, S., Galiana, A., Baudoin, E., Neyra, M., Svistoonoff, S., Lebrun, M., & Duponnois, R. (2013). Ectomycorrhizal diversity enhances growth and nitrogen fixation of Acacia mangium seedlings. Soil Biology and Biochemistry, 57, 468-476. https:// doi.org/10.1016/j.soilbio. 2012.08.030
Feskaharny, A., & Husin, E.F. (2010). Keanekaragaman fungsi ektomikoriza di rizosfer tanaman meranti (Shorea sp.) di Sumatera Barat. Biospectrum,
6(3), 155–160. http://staff.unand.ac.id/rilhamdi/wp- content/uploads/sites/35/2015/07/Biospectrum_Feskaharny.pdf
Gusmiaty, Restu, M., & Lestari, A. (2012). Pengaruh dosis inokulan alami (ektomikoriza) terhadap pertumbuhan semai tengkawang (Shorea pinanga). Perennial, 8(2), 69-74. https://doi.org/ 10.24259/perennial.v8i2.217
Hasanuddin. (2014). Jenis jamur kayu makroskopis sebagai media pembe- lajaran biologi (studi di TNGL Blangjerango Kabupaten Gayo Lues). BIOTIK: Jurnal Ilmiah Biologi Teknologi dan Kependidikan, 2(1), 1- 76. https://doi.org/10.22373/biotik. v2i1.234
Helbert, Turjaman, M., & Nara, K. (2019). Ectomycorrhizal fungal communities of secondary tropical forests dominated by tristaniopsis in Bangka Island , Indonesia. PLOS ONE, 9, 1-9.
Hernita, D., Poerwanto, R., Susila, A., & Anwar, S. (2012). Penentuan status hara nitrogen pada bibit duku penentuan status hara nitrogen pada bibit duku. Jurnal Hort, 22(1), 29–36.
Hilwan, I., & Handayani, E.P. (2013). Keanekaragaman mesofauna dan makrofauna tanah pada areal bekas tambang timah di Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung. Silvikuktur Tropika, 04(01), 35-41. Hoffland, E., Kuyper, T.W., Comans, R.N.J., & Creamer, R.E. (2020). Eco- functionality of organic matter in soils. Plant Soil, 455, 1-22.
Indriyanto. (2021). Metode Analisis Vegetasi dan Komunitas Hewan Edisi 2 (2 ed.). Graha Ilmu.
Irianto, R.S.B. (2015). Efektifitas fungi mikoriza arbuskular terhadap pertumbuhan kihiang (Albizia procera Benth.) di persemaian dan lapangan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 12(2), 115-122.
Karmilasanti, K., & Maharani, R. (2016). Keanekaragaman jenis jamur ektomikoriza pada ekosistem hutan dipterokarpa di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Ekosistem Dipterokarpa, 2(2), 57-66. https://doi.org/10.20886/jped.2016.2.2.57-66
Kasongat, H., Gafur, M.A., & Ponisri, P. (2019). Identifikasi dan keaneka- ragaman jenis jamur ektomikoriza pada hutan jati di Seram bagian timur. Median: Jurnal Ilmu-Ilmu Eksakta, 11(1), 39-46. https://doi.org/10.33506/md.v11i1.461
Khairani, M. (2022). Meta-analisis keanekaragaman jenis jamur ektomikoriza di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Sains, 1(2), 6-21.
Liu, Y., Li, X., & Kou, Y. (2020). Ectomycorrhizal fungi: participation in nutrient turnover and community assembly pattern in forest ecosystems. Journal Forest MDPI, 11(453), 1-16.
Mujahidah, S., Sukarno, N., Kanti, A., & I Made Sudiana. (2018). Identification of ectomycorrhiza-associated fungi and their ability in phosphate solubilization. Jurnal Biologi Indonesia, 14(2), 219–225.
Parniske, M. (2008). Arbuscular mycorrhiza: the mother of plant root endosymbioses. Nature Reviews Microbiology, 6(10), 763-775. https:// doi.org/http://dx.doi.org/10.1038/nrmi cro1987
Ponisri, Irnawati, & Bleskadit, H. (2022). Keanekaragaman jenis jamur ektomikoriza di tanaman Wisata Alam Bariat Kabupaten Sorong Selatan. Jurnal AGRIFOR, 21, 75–90.
Rohmayana, Mardji, D., & Sukartiningsih. (2011). Keanekaragaman jenis jamur ektomikoriza pada kondisi hutan dengan kelerengan yang berbeda di Hutan Wisata Bukit Bangkirai PT Inhutani I Balikpapan. Jurnal Kehutanan Tropika Humida, volume 4 nomor 2, halaman 150-160.
Saridan, A. (2012). Keragaman jenis dipterokarpa dan potensi pohon penghasil minyak keruing di hutan dataran rendah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur Jurnal Penelitian Dipterokarpa, 6(2), 75-83. https:// doi.org/10.20886/jped.2012.6. 2.75-84
Saridan, A., & M.Fajri. (2014). Potensi jenis dipterokarpa di Hutan Penelitian Labanan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Dipterokarpa, 8(1), 7–14.
Sesfao, O., Duan, F.K., & Momo, A.N. (2019). Kelimpahan dan keaneka- ragaman jenis-jenis Gastropoda pada zona intertidal Pantai Oebon, Desa Oebon Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Jurnal Biotropikal Sains, 16(3), 76-85.
Taisa, R., Purba, T., Sakiah, Herawati, J., Junaedi, A.S., Hasibuan, H.S., Junairiah, & Firgianto, R. (2021). Ilmu Kesuburan Tanah dan Pemupukan (A. Karim (ed.). Yayasan Kita Menulis.
Ulfa, M., Farida, E., Lee, S.S., Sumardi, Roux, C. le, Galiana, A., Mansor, P., & Ducousso, M.(2019).Multi inang fungi ektomikoriza pada Dipterocarpaceae di Hutan Tropis. Jurnal Ilmu Kehutanan, 13(1), 56-69.https://doi.org/10.22146/jik.46196
Wiati, C.B., Indriyanti, S., Maharani, R., & Subarudi. (2018). Conflict resolution efforts through stakeholder mapping in Labanan Research Forest, Berau, East Kalimantan, Indonesia. 1st International Conference on Tropical Studies and Its Application (ICTROPS), 1-8. https://doi.org/10.1088/ 1755-1315/144/1/012063
Wiati, C.B., Indriyanti, S.Y., Akhadi, K., Suprianto, A., & Subarudi. (2019). In: Membangun Kemitraan Kehutanan Melalui Agroforestry, (Ed: Ekawati, S., & Trison, S.), Cetakan 1, PT Penerbit IPB Press
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2022 Jurnal Penelitian Hutan Tanaman

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












