MODEL KEBERHASILAN DAN MANAJEMEN PENANGKARAN CUCAK RAWA (Pycnonotus zeylanicus)

Penulis

  • Dini Ayu Lestari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor Jl. Lingkar Akademik Kampus IPB Dramaga Bogor 16680; Telp: +62 251 8626806, Fax +62 251 8626886
  • Burhanuddin Masy’ud Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor Jl. Lingkar Akademik Kampus IPB Dramaga Bogor 16680; Telp: +62 251 8626806, Fax +62 251 8626886
  • Jarwadi Budi Hernowo Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor Jl. Lingkar Akademik Kampus IPB Dramaga Bogor 16680; Telp: +62 251 8626806, Fax +62 251 8626886

Kata Kunci:

Penangkaran, manajemen, regresi, komponen utama, cucak rawa, model keberhasilan

Abstrak

Burung Cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus, Gmelin 1789) merupakan salah satu burung berkicau terkenal dan marak diperdagangkan di Indonesia. Upaya konservasi untuk meningkatkan populasi di luar habitat ala- minya adalah melalui penangkaran  sehingga penelitian mengenai  model keberhasilan penangkaran  penting untuk  dilakukan.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mendeskripsikan   manajemen  penangkaran  pada  lokasi penelitian dan menentukan model keberhasilan penangkaran cucak rawa. Penelitian dilakukan pada sepuluh penangkaran yang berlokasi di Kabupaten Bogor dan Depok. Penelitian dilakukan selama tiga bulan mulai Mei hingga Juli 2015. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan langsung, pengukuran, dan wawancara. Data selanjutnya dianalisis menggunakan regresi komponen utama dengan metode stepwise untuk menentukan model keberhasilan. Hasil studi menunjukkan bahwa manajemen penangkaran yang sudah beroperasi hingga saat ini dinilai tepat untuk memenuhi kebutuhan produktivitas, seperti yang ditunjukkan dalam model perkem- bangan reproduksi  berdasarkan  angka kelahiran dan kematian.  Model kelahiran  Y1 = 64,.70 + 57,48 PC1 menunjukkan bahwa semakin lama menangkarkan, jumlah induk produktif banyak, dan daya tetas telur tingi maka semakin besar kelahiran. Model kematian Y2 = 19,10 – 4,23 PC2 menunjukkan bahwa semakin besar biaya operasional dan modal serta semakin lama durasi waktu perawatan maka angka kematian dapat ditekan.

Referensi

KEPEKAAN LINGKUNGAN EKOSISTEM MANGROVE TERHADAP TUMPAHAN MINYAK DI KECAMATAN UJUNG PANGKAH, GRESIK

Ashari, A. A. Y., & Sukarsa, I. M. (2013). Analisis efisiensi produksi usaha peternakan ayam ras pedaging di kabupaten tabanan. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 2(6), 394–408.

Ayat, A. (2011). Burung-burung Agroforest di Sumatera. Bogor: World Agroforestry Centre–ICRAF.

Azis, A. S. (2013). Teknik penangkaran dan aktivitas harian jalak bali di Penangkaran UD Anugrah Kediri Jawa Timur. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Budiharjo, A. (2005). Pola reproduksi burung jalak gading (Turdus sp.) di Gunung Lawu, Jawa Tengah. Biodiversitas, 6(4), 272–275. CITES. (2016). Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora. http://www.cites.org/.

CITES. (2016). Convention on International Trade in Endangered Species of wild fauna and flora. http: //www.cites.org/

Dorrestein, G. M. (2009). Bacterial and parasitic diseases of passerines. Veterinary Clinics of North America - Exotic Animal Practice. 12, 433-451. https://doi.org/10.1016/j.cvex.2009.07.005

Draper, C., & Harris, S. (2012). The assessment of animal welfare in British zoos by government- appointed inspectors. Journal ofAnimals. 2, 507-528. https://doi.org/10.3390/ani2040507

Griffith, S. C., Mainwaring, M. C., Sorato, E., & Beckmann, C. (2016). Highembryonic development and lead to earlier hatching in a passerine bird. Royal Society Open Science. 3, 1-14. https://doi.org/10.1098/rsos.150371

Hall, A. J., & Saito, E. K. (2008). Avian wildlife mortality events due to salmonellosis in the United States,1985-2004. Journal of Wildlife Diseases. 44(3),585-593. https://doi.org/10.7589/0090-3558-44.3.585

Imran, T. A. (2012). Pengetahuan, sikap, dan praktik pemilik kennel terkait kesejahteraan hewan di Provinsi DKI Jakarta. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Iriawan, N. (2006). Mengolah Data Statistik Dengan Mudah Menggunakan Minitab 14. Yogyakarta: Andi Publisher

IUCN. (2016). International Union for Conservation of Nature. http: //www. iucnredlist.org/.

Karminiasih, N. L. P., Marwati, N. M., & Asmara, I. W. S. (2014). Hubungan pengetahuan, sikap, dan tindakan pekerja ternak unggas dengan keadaan sanitasi kandang untuk pencegahan penyakit flu burung. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 4(1),50–56.

Lestari, D. A. (2014). Teknik penangkaran dan kualitas suara cucak rawa (Pcynonotus zeylanicus, Gmelin 1789) di Mega bird and orchid farm. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

MacKinnon, J., & Phillipps, K. (2010). Seri Panduan Lapang Burung- Burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Bogor: Puslitbang Biologi LIPI.

Parasdya, W., Mastuti, S., & Djatmiko, O.E. (2013). Analisis finansial usaha peternakan ayam niaga petelur di kecamatan kademangan Kabupaten Blitar. Jurnal Ilmiah Peternakan,1(1), 88–98.

Purnamasari, I. (2014). Model keberhasilan penangkaran jalak bali (Leucopsar rothschildi, Stresemann 1912) berdasarkan peubah sosial masyarakat. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Ratnawati, L. D. (2012). Keberhasilan penangkaran buaya muara (Crocodylus porosus Schneider,1801) dengan pola pembesaran: studi kasus penangkaran buaya di Provinsi Papua. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Santoso, S. (2002). SPSS Statistik Multivariat. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Shankar, B. P. (2008). Common respiratory diseases of poultry. Veterinary World, 1(7), 217–219.

Suandi. (2014). Pengaruh karakteristik usaha terhadap pendapatan dan efisiensi usaha ternak kelincidi Kelurahan Salokaraja, Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. Makassar: Universitas Hasanuddin.

Suprijatna, E., Atmomarsono, U., & Kartasudjana, R. (2012). Ilmu Dasar Ternak Unggas. Jakarta: Jakarta (ID): Penebar Swadaya.

Thohari, M., Mas’ud, A., & Takanjanji, M. (2011). Teknis penangkaran rusa timor (Cervus timorensis) untuk stok perburuan. In Prosiding Seminar Sehari Prospek Penangkaran Rusa Timor (Cervus timorensis) Sebagai Stok Perburuan. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Wibowo, A. T. (2013). Faktor-faktor yang memengaruhi hasil usaha peternak ayam di Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Widodo, W. (2012). Ekologi Gunung Slamet: Geologi, Klimatologi, Biodiversitas dan Dinamika Sosial. Jakarta: LIPI Press.

Zahid, A. (1997). Hubungan karakteristik peternak sapi perah dengan sikap dan perilaku aktual dalam pengelolaan limbah peternakan. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Zulkarnain, D., Bebas, I. W., & Laksana, I. G. N. B. T. (2015). Performans reproduksi burung cucak rawa (Pycnonotus zeylanicus) pada penangkaran secara ex-situ. Indonesia Medicus Veterinus, 4(2).

Unduhan

Diterbitkan

2017-12-29

Cara Mengutip

Ayu Lestari, D., Masy’ud, B., & Budi Hernowo, J. (2017). MODEL KEBERHASILAN DAN MANAJEMEN PENANGKARAN CUCAK RAWA (Pycnonotus zeylanicus). Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam, 14(2), 99–109. Diambil dari https://ejournal.aptklhi.org/index.php/JPHKA/article/view/686

Artikel Serupa

1 2 3 4 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.