Tingkat Pemanfaatan Tumbuhan Penghasil Warna pada Usaha Tenun Ikat di Kabupaten Sumba Timur

Penulis

  • Murniati Murniati Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
  • Mariana Takandjandji Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

DOI:

https://doi.org/10.59465/jpht.v12i3.876

Kata Kunci:

Budidaya, pemanfaatan, pengrajin, pewarna alam, tenun ikat

Abstrak

Pembuatan kain tenun ikat Sumba Timur sampai saat ini menggunakan pewarna alam yang dihasilkan dari tumbuhan. Penelitian ini bertujuan (1) mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan pewarna yang digunakan di Sumba Timur, (2) tingkat pemanfaatan, serta (3) ketersediaan di alam dan upaya untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Penelitian dilakukan di empat kelurahan/desa pada tahun 2013 dan 2014 melalui metode wawancara dan diskusi kelompok terarah dengan pengrajin serta pengamatan di lapangan. Terdapat lima jenis tumbuhan yang digunakan pengrajin sebagai sumber, pengikat dan pengawet warna serta pelembut kain yaitu nila (Indigofera tinctoria L.), mengkudu (Morinda citrifolia L.), loba (Symplocos sp.), kemiri (Aleurites moluccana (L.) Willd.) dan dadap (Erytrina sp.). Kelima jenis tumbuhan tersebut dipungut langsung dari alam, tetapi data potensi jenis-jenis tersebut tidak tersedia. Tingkat pemanfaatan biomassa nila dan mengkudu sebagai sumber pewarna utama adalah 49,3 dan 246,7 ton per tahun. Sedangkan tingkat pemanfaatan loba dan kemiri sebagai bahan pengikat dan pengawet warna serta pelembut kain adalah 246,7 dan 49,3 ton per tahun. Kebutuhan biomassa tumbuhan penghasil warna yang terus meningkat perlu diimbangi dengan upaya budidaya jenis-jenis tersebut dan pengenalan serta penggunaan jenis-jenis pewarna alternatif.

Referensi

Adalina, Y. (2013). Pemanfaatan sumber pewarna alam sebagai zat warna nabati. Prosiding Gelar Teknologi Hasil Penelitian. Iptek untuk kesejahteraan masyarakat Sumba Barat (pp. l14-30). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam.

Adalina, Y., Herawati, T., & Rosandy, A. (2013). Tumbuhan Indigofera sebagai pewarna alami kain tenun ikat di Nusa Tenggara Timur. Prosiding Gelar Teknologi Hasil Penelitian. Pengembangan hasil hutan non kayu dalam upaya mensejahterakan masyarakat Sumba Timur (pp. 97-108). Pusat Penelitian danPengembangan Hutan dan Konservasi Alam.

Banilodu, L., & Saka, N.T. (1993). Analisis deskriptif hutan Pulau Sumba. Hasil Penelitian Ekspedisi Sumba 1992. Kerjasama antara Birdlife International-Indonesia Programme dan Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA), Departemen Kehutanan, Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang.

BPS Kabupaten Sumba Timur. (2012a). Indikator Kesejahteraan Rakyat Sumba Timur 2011, BPS Kabupaten Sumba Timur.

BPS Kabupaten Sumba Timur. (2012). Kabupaten Sumba TimurDalam Angka 2012. BPS Kabupaten Sumba TImur.

Balai Pustaka dan Prosea. (1999). Sumber Daya Nabati Asia Tenggara No. 3. Tumbuh-tumbuhan penghasil pewarna dan tanin. Bogor: PT. Balai Pustaka, Jakarta bekerjasama dengan Prosea Indonesia.

Cunningham A.B., Maduarta, I.M., Howe, J., Ingram, W., & Jansen, S. (2011a). Hanging by a Thread: Natural Metallic Mordant Processes in Traditional Indonesian Textiles. Economic Botany, 65(3), 241-259. The New York Botanical Garden Press.

Cunningham A.B., Ingram, W., Daoskadati, W., Howe, J., Sujatmoko, S., Refli, R., Liem, J.V., Tari, A., Maruk, T., Robianto, N., Sinlae, A., Ndun, Y., Maduarta, I.M., Hadi, D.S.& Koeslulat, E. (2011b). Hidden Economies, future options: Trade in Non-timber forest products In Eastern Indonesia. ACIAR Technical Report No.77. Canberra: Australian Center for International Agricultural Research.

Dinas Kehutanan Sumba Timur. (2014). Data tentang luas kawasan hutan di Kabupaten Sumba Timur. Sumba Timur.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Sumba Timur. (2011). Data industri formal dan non formal, industri kecil dan industri menengah. Hasil pemutahiran data tahun 2011.

Gana, R. (2007). Program aksi pengembanganternak kerbau di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Makalah pada Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau. Nusa Tenggara Timur: Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur.

Hadi, D.S. (2013). Loba (Symplocos sp.) sebagai bahan mordant pewarnaan alami pada tenun tradisional di Nusa Tenggara Timur. Prosiding Gelar Teknologi Hasil Penelitian Iptek untuk

Kesejahteraan Masyarakat Sumba Barat (pp. 31-40). Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi.

Hadi, D.S., Prasetiyo, A.N., & Pamungkas, D. (2010). Teknik konservasi dan domestikasi Loba (Symplocos sp.) sebagai flora penghasil bahan pewarna alami. Data Penelitian. Balai Penelitian Kehutanan Kupang. Tidak dipublikasi.

Murniati dan Mariana Takandjandji, Haning, Y. (2012). Ikat Weaving as Heritage for Sustainable Development in East Nusa Tenggara,

Indonesia. Final Report on International Workshop (p. 56). International Institute for Asian Studies. Rapenburg 59, 2311 GJ Leiden, The Netherlands.

Heyne, K. (1987). Tumbuhan berguna Indonesia II. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.

Herdiawan, I., & Krisnan, R. (2014) Produktivitas dan pemanfaatan tanaman leguminosa Indigofera zollingeriana pada lahan kering. Wartazoa, 24(2).

Indrianingsih, A.W. & Darsih, C. (2013). Natural dyes from plants extract and its applications in Indonesian Textile Small Medium Scale

Enterprise. Technical Implementation Unit for Chemical Engineering Processes, 11(1), 16-22. Yogyakarta, Indonesian Institute of Sciences (UPT BPPTK- LIPI).

Kinnaird, M.F., Sitompul, A.F., Walker, J.S., & Cahill, A.J. (2003). Pulau Sumba, Ringkasan Hasil Penelitian 1995-2002. Bogor. PHKA dan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program.

Krisnawati, H., Kallio, M., & Kanninen, M. (2011). Aleurites moluccana (L.) Willd. Ekologi, Silvikultur dan Produktivitas. Bogor, Indonesia: CIFOR.

Kulkarni, S.S., Gokhale, A.V., Bodake, U.M., & Pathade, G.R. (2011). Cotton dyeing with natural dye extracted from pomegranate (Punica granatum) Peel. Universal Journal of Environmental Research and Technology, 1(2), 135-139.

Lemmens, R.H.M.J., & Wulijarni-Soetjipto, N. (1992). Plant resources of South-East Asia No.3. Dye and tannin-producing plants. Bogor: Prosea.

Dima, P. P. (2007). Kajian budaya kain tenun ikat Sumba Timur. Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Timur. p. 244.

Prosea. (2009). Pewarna alami: Ditemukan 62 jenis tumbuhan penghasil pewarna alami. Akses tanggal 14 Maret 2014, dari http:// www.proseanet.org/prohati4/browser.php?pcategory=2 pageset=1). 236.

Subagiyo, Y.P. (2008). Tekstil tradisionil, Pengenalan bahan dan teknik. Bekasi: Studio Primastoria.

Tocharman, M. (2009). Eksperimen zat pewarna alami dari bahan tumbuhan yang ramah lingkungan sebagai alternatif untuk pewarnaan kain batik. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Umroni, A. (2010). Mengenang Hari Keanekaragaman Hayati International. Warta Cendana, III (1), 4-8. Balai Penelitian Kehutanan Kupang.

Wanyama, P.A.G., Kiremire, B.T., & Murumu, J.E.S. 2014. Extraction, characterization and application of natural dyes from selectedplants in Uganda for dyeing of cotton fabrics. African Journal of Plant Science, 8(4), 185195.

Unduhan

Diterbitkan

2015-12-31

Cara Mengutip

Murniati , M., & Takandjandji, M. (2015). Tingkat Pemanfaatan Tumbuhan Penghasil Warna pada Usaha Tenun Ikat di Kabupaten Sumba Timur. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 12(3), 223–237. https://doi.org/10.59465/jpht.v12i3.876

Artikel Serupa

1 2 3 4 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.