Potensi dan Habitat Tempat Tumbuh Ketak (Lygodium circinnatum (Burn. F.) Swartz) di Lombok

Penulis

  • I Wayan Widhana Susila Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi HHHBK Mataram
  • Ogi Setiawan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi HHHBK Mataram
  • M. Hidayatullah Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi HHHBK Mataram

DOI:

https://doi.org/10.59465/jpht.v16i2.825

Kata Kunci:

Potensi, ketak, tempat tumbuh, sulur, pohon pemanjat

Abstrak

Ketak (Ligodium circinnatum) merupakan jenis Hasil Hutan Bukan Kayu unggulan di Nusa Tenggara Barat. Saat ini terjadi penurunan suplai bahan baku untuk kerajinan ketak di Lombok. Penelitian bertujuan untuk memperoleh informasi potensi, sebaran, dan tempat tumbuh ketak di Pulau Lombok. Penelitian dilakukan dengan cara inventarisasi dengan metode sampling secara purposif dan peletakan jalur (transek) pertama secara acak, kemudian jalur berikutnya secara sistematis. Rumput ketak ditemukan di Kawasan Hutan Malimbu dan Pusuk (Kesatuan Pemangkuan Hutan Lindung (KPHL) Rinjani Barat), sedangkan di KPHL Rinjani Timur ada di Kawasan Hutan Lang-lang, Mentareng, dan Obel-Obel. Potensi ketak di Lombok relatif rendah dengan jumlah rumpun 443 rumpun/ha, jumlah sulur 5,2 batang sulur/rumpun dan jumlah sulur yang siap dipanen 3 batang/rumpun. Semua jenis pohon bisa menjadi pohon pemanjat rumput ketak. Di Nusa Tenggara Barat rumput ketak mampu tumbuh diketinggian kurang dari 400 mdpl, lereng landai sampai curam, tipe iklim C sampai E menurut Schmidt dan Fergusson, curah hujan 935-1.511 mm/tahun, temperatur 24-320C, kelembaban50–88%, intensitas cahaya 120-3.872 lux. Ketak tumbuh pada kondisi tanah dengan struktur granuler, tekstur fraksi berpasir, pH tanah agak asam sampai netral, laju resapan air baik, dan bisa tumbuh baik sampai kondisi hara rendah.

Referensi

Aji. I, Sutriono, R., & Taufik. M. (2012). Pengaruh Intensitas Cahaya dan Dosis Pupuk Organik Cair NASA terhadap Pertumbuhan Bibit Ketak (Lygodium circinnatum (Burn. F) Swartz) Cabutan. Media Bina Ilmiah, 9(7), 37- 41.

Darma, & Arinasa, I.D.P. (2009). Konservasi Flora Indonesia dalam Mengatasi Pemanasan Global (p. 658). Indonesian Institute of Sciences (LIPI) UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya “Eka Karya” Bali*.

Dwiyani, R. (2016). In vitro and ex vitro Propation of a wild-extinct fern Lygodium circinnatum (Burn. F.) Sw. Grown in Bali. Jurnal Bumi Lestari, 16(2), 131-138.

Dwiyani, R., & Hestin, Y. (2012). Respon sporofit paku ata (Lygodium circinnatum (Burn. F.) Swartz) terhadap pemberian pupuk urea. Jurnal Agrotrop, 2(1), 63–66.

Effendi, R., & Sebastian, G.M. (2015). Buku Petunjuk Pembibitan Rumput Ketak (Lygodium circinnatum) melalui spora. Proyek Kerjasama Word Agroforestry Centre/ICRAF, Australian Centre for International Agricultural Research. Pusat Litbang Hutan Badan Litbang.

Hasan, & Susila. (2018). Marketing Chain of Ketak (Lygodium circinnatum) and Cultivation Opportunities on Community Land. The paper presented on Join Internasional Comfrence Hydro-Meteorological Disaster Mitigation under Global Change, 29 Nopember.

Indriyanto. (2009). Komposisi Jenis dan Pola Penyebaran Tumbuhan Bawah Pada Komunitas Hutan Yang Dikelola Petani Di Register 19 Provinsi Lampung. Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat. Jurusan Kehutanan fakultas Pertanian Universitas lampung.

Silalahi. (2016). Keanekaragaman dan distribusi tumbuhan bermanfaat di pekarangan Kampus Universitas Kristen Indonesia, Cawang, Jakarta Jurnal Biologi, 20, 75–82.

Siregar M, Ardaka, & Hartutiningsih. (2014). Pengaruh jenis media dan zat pengatur tumbuh atonik terhadap perkecambahan spora dan pemben-tukan sporofit Lygodium circinnatum (Burm.F.) Sw. (Schizaeaceae). Buletin Kebun Raya, 17(1), 15–24.

Susila, I.W.W., & Setyayudi, A. (2017). Peningkatan Pertumbuhan Permudaan Alam Rumput Ketak (Lygodium circinnatum (Burn. F.) Sw.) di Kawasan Hutan Pusuk, KPH Rinjani Barat. Disampaikan dalam Seminar Nasional Perhutanan Sosial dalam Mendukung Kesejahteraan Masyara-kat dan Ketahanan Pangan, Tangga. Makassar: Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar.

Tauhid, M. (2012). Pengaruh Intensitas Cahaya dan Dosis Pupuk Organik Cair NASA Terhadap Pertumbuhan Bibit Ketak (Lygodium circinatum Burm.F.) Sw.) Cabutan. Skripsi, Program Studi Kehutanan, Jurusan Sosial Ekonomi Kehutanan, Fakultas Pertanian. Universitas Mataram.

Wahyuningsih, E, Faridah, E., & Budiadi. (2017). Jenis tanaman rambatan untuk pertumbuhan ketak (Lygodium circinatum (Burm.F.) Sw.) di Hutan Alam Pulau Lombok, NTB. Jurnal Sangakareang Mataram, 16–19.

Wahyuningsih, Faridah, E., & Syahbudin. (2018a). Analisis komposisi dan keanekaragaman tumbuhan pada tapak alami ketak (Lygodium circinatum) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dalam: Seminar Nasional Biodiversitas, Species Asli, Endemik dan Introduksi: Perlin-dungan, Pemanfaatan dan Pengen-dalian. Surakarta, 99-110.

Wahyuningsih, Faridah, E., & Syahbudin. (2018b). Asosiasi vegetasi tanaman rambatan ketak (Lygodium circinatum) pada tapak alami di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Dalam: Seminar Nasional Biodiver-sitas, Species Asli, Endemik dan Introduksi: Perlindungan, Peman-faatan dan Pengendalian. Surakarta, 89-98.

Yuyun, Y. (2015). Potensi agroforestry untuk meningkatkan pendapatan, kemandirian bangsa, dan perbaikan lingkungan. Dalam: Seminar Nasional Agroforestry 2015, Inovasi Agro-forestry Mendukung Kemandirian Bangsa. Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Agro-forestry, 1-19.

Unduhan

Diterbitkan

2019-12-31

Cara Mengutip

Widhana Susila, I. W., Setiawan, O., & Hidayatullah, M. (2019). Potensi dan Habitat Tempat Tumbuh Ketak (Lygodium circinnatum (Burn. F.) Swartz) di Lombok. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 16(2), 103–114. https://doi.org/10.59465/jpht.v16i2.825

Artikel Serupa

1 2 3 4 5 6 7 8 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.