Pemilihan Jenis Hibrid Ulat Sutera yang Optimal Untuk Dikembangkan di Dataran Tinggi dan/atau Dataran Rendah

Penulis

  • Lincah Andadari Pusat Penelitian dan Pengembang Hutan

DOI:

https://doi.org/10.59465/jpht.v13i1.864

Kata Kunci:

Hybrid, produktivitas, ulat sutera

Abstrak

Salah satu kendala dalam usaha persuteraan alam di Indonesia adalah masih rendahnya produksi dan kualitas kokon. Hal ini akibat penggunaan jenis ulat yang sama untuk lokasi yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan bibit ulat sutera yang optimal untuk dikembangkan di dataran tinggi dan/atau dataran rendah. Ulat sutera yang diujikan yaitu 4 hibrid ulat sutera dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan 1 hibrid dari Perum Perhutani. Penelitian menggunakan Rancangan Split Plot dalam Rancangan Acak Kelompok. Petak utama berupa lokasi dataran rendah dan dataran tinggi dan anak petak terdiri atas 5 jenis ulat sutera (P3H-1, P3H-2, P3H-3, P3H-4 dan C301). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penetasan ulat sutera tidak dipengaruhi oleh jenis ulat sutera maupun ketinggian lokasi pemeliharaan, dengan persentase penetasan di atas 96%. Ulat sutera yang cocok dikembangkan di dataran rendah adalah hibrid P3H-1, P3H-2 dan P3H-4. Jenis hibrid yang sesuai untuk dibudidayakan di dataran tinggi yaitu P3H-2 dan P3H-3. Hibrid P3H-2 potensial untuk dikembangkan dataran rendah dan di dataran tinggi.

Referensi

Andadari, L., Pudjiono. S., Suwandi & Rahmawati, T. (2013). Budidaya murbei dan ulat sutera. FORDA PRESS. ISBN: 978-602-14274-6-0.

Andadari & Kuntadi. (2014). Perbandingan hibrid ulat sutera (Bombyx mori L.) asal Cina dengan hibrid lokal di Sulawesi Selatan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 11(3), 173-183.

Andadari, L., Rahmawati, T. & Suwandi. (2011). Pengembangan koleksi ulat sutera. (tidak dipublikasikan). Laporan Hasil Penelitian. Pusat Penelitian dan Pengembangan

BPS Jawa Tengah Dalam Angka (2015). Bidang integrasi pengolahan dan deseminasi statistik. Akses tanggal 26 Mei 2016.

BPS Kabupaten Sukabumi. (2013). Kabupaten Sukabumi dalam angka 2013. Akses tanggal 26 Mei dari:https://www.scribd.com/doc/257481114 Sukabumi-Dalam-Angka-2013.

Endarwati. Y.C., Siregar, H.C.H. & Kaomini, M. (2006). Kajian pengaruh bobot kokon induk terhadap kualitas telur persilangan ulat sutera (Bombyx mori L.) Ras cina dengan ras Jepang. Jurnal Peternakan Indonesia, 2(2), 173-180.

Gowda, B.N. & Reddy, N.M. (2007). Influence of different environmental conditions on cocoon parameters and their effects for reeling performance of bivoltine hybrids of silkworm, Bombyx mori L. Int. J. Indust. Entomol, 14(1), 15-21.

Hussain, M., Naeem. M., Khan, S.A., Bhatti, M.F. & Munawar, M. (2011a). Studies on the enfluance of temperature and humidity on biological traits of silkworm (Bombyx mori L. : Bombycidae). African J. Biotech, 10(57),-12375.

Hussain, M., Khan. S.A., Naeem, M., Aqil, T., Khursheed, R. & Ul Mohsin, A. (2011b). Evaluations of silkworm lines against variations in temperature and RH for various parameters of commercial cocoon production. Psyche vol. 2011, article ID 145640. http://www.hindawi.com/journals/psyche//145640/. Diakses 5 Mei 2016.

Kaomini, M., & Andadari, L. (2009). Sintesis Hasil Penelitian Teknologi Peningkatan Produktivitas dan kualitas Produk Ulat sutera. Pusat

Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Tidak diterbitkan.

Kumar, V., Kumar, D. & Ram, P. (2014). Varietal influence of mulberry on silkworm, Bombyx mori L. growth and development. Research Article. International Journal of Advanced Research, 2(3), 921-927.

Kumar, S.N. & Singh, H. (2012). Evaluation of the reproductive potential of bivoltine silkworm hybrids of Bombyx Mori L under high temperature

and high humidity and high temperature and low humidity conditions of the tropics. Universal Journal of Environmental Research and Technology. eISSN 2249 0256, 2(5), 443-449.

Kumar, S,N., Singh, H., Saha, A.K. & Bindroo, B.B. (2011). Development of bivoltine double hybrid of the silkworm, Bombyx Mori L. tolerant to high temperature and high humidity conditions of the tropics. Universal Journal of Environmental Research and Technology. eISSN 2249 0256, 1(4), 423-434.

Muin, Suryanto, N. & Minarningsih. (2015). Uji coba hibrid Morus khunpai dan M. indica sebagai pakan ulat sutera ( Bombyx mori Linn.). Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 4(2), 137-145.

Nursita, I,W. (2011). Perbandingan produktivitas ulat Sutera dari dua tempat pembibitan yang berbeda pada kondisi lingkungan pemeliharaan panas. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan,21(3), 10-17.

Nuraeni, S., & Baharudin. (2009). Perbandingan karakteristik dan produktivitas ulat sutera (Bombyx mori L.) dari dua sumber bibit di Sulawesi Selatan. Jurnal Perennial, 6(1), 39-43.

Nurhaedah, Budi Santoso, H. & Isnan, W. (2006). Pengaruh murbei (Morus spp.) dan ulat sutera persilangan (Bombyx mory Linn.) terhadap kualitas ulat, kokon dan serat sutera. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 3(1),65-73.

Santoso, B. (2012). Murbei varietas NI (varietas unggul). Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 1(2).

Seidavi, A. (2012). Study on thirty-one economically important traits in twenty silkworm Bombyx mori varieties. African J. Biotechnology,(36), 8938-8947.

Unduhan

Diterbitkan

2016-06-30

Cara Mengutip

Andadari, L. (2016). Pemilihan Jenis Hibrid Ulat Sutera yang Optimal Untuk Dikembangkan di Dataran Tinggi dan/atau Dataran Rendah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 13(1), 13–21. https://doi.org/10.59465/jpht.v13i1.864