Addressing Tenurial Conflict through Forestry Partnership: A Case Study in Jambi Province, Indonesia

Menangani Konflik Tenurial melalui Kemitraan Kehutanan: Studi Kasus di Provinsi Jambi, Indonesia

Penulis

  • Rivani Noor Yayasan CAPPA Keadilan Ekologi
  • Dolly Priatna Pakuan University
  • Helmi Jambi University

DOI:

https://doi.org/10.59465/jphka.v23i1.892

Abstrak

Tenurial conflict remains a persistent challenge in Indonesia’s forest governance, particularly where Indigenous communities’ customary tenure intersects with formal forest management. Conflicts between local communities and forest companies have increased significantly. These conflicts may be addressed through Forestry Partnerships as a collaborative governance mechanism for negotiating tenure rights, sharing management responsibilities, and improving community welfare. Although Forestry Partnerships are promoted to address such conflicts, previous studies in the PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) landscape have rarely examined how the distinctive socio-cultural characteristics of the Batin Sembilan shape conflict resolution. This study analyzes how the Batin Sembilan community in Simpang Macan Luar developed capacity, formulated and negotiated resolution options, obtained Forestry Partnership approval, and subsequently engaged with PT REKI. Using a qualitative case-study approach, data were collected through interviews, field observations, and document analysis. The findings show that advocacy and negotiation enabled the community to overcome unequal bargaining positions and establish a formal partnership aligned with Ministerial Regulation No. 83/2016. The partnership strengthened recognition of customary tenure and enabled collaborative ecosystem restoration, while establishing a Forest Farmer Group (KTH), Social Forestry Management Plan (RKPS), and livelihood activities. However, tenure formalization, power asymmetries, and institutional capacity remain challenges. The study demonstrates that tenurial conflict resolution is a gradual social process shaped by community knowledge, capacity, and socio-cultural institutions. Sustained participatory processes, independent facilitation, community capacity building, and long-term institutional support are essential for equitable and durable partnerships

Referensi

Aini. (2022, August 25). Wawancara mengenai pengalaman masyarakat Batin Sembilan Simpang Macan Luar dalam konflik tenurial [Interview].

Awang, S. A. (2003). Kemitraan dan pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Badan Pusat Statistik (BPS). (2024). Provinsi Jawa Barat dalam angka tahun 2024 (Vol. 29). Badan Pusat Statistik.

Buckles, D. (1999). Cultivating peace: Conflict and collaboration in natural resource management. International Development Research Centre.

Ekawati, S., Moeliono, M., & Wulandari, C. (2019). Tenurial conflicts in Indonesia’s forestry sector: Causes and policy responses. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 16(2), 123–136.

Fauzi, A. (2004). Ekonomi sumberdaya alam dan lingkungan. PT Gramedia Pustaka Utama.

Fauzi, N., & Bachriadi, D. (1998). Hak-hak rakyat atas sumber daya alam: Sebuah pengantar. In A. Zakaria (Ed.), Reforma agraria: Perjalanan yang belum selesai (pp. xx–xx). Jakarta: Konsorsium Pembaruan Agraria.

Garjitowati, S. (2009). Implementasi standar sistem manajemen lingkungan (ISO 14001:2004) dalam pengelolaan ekowisata di Taman Nasional: Studi kasus pada Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [Tesis, Universitas Gadjah Mada].

Hakim, L. (2004). Dasar-dasar ekowisata. Bayumedia Publishing.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2015). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 84 Tahun 2015 tentang Kemitraan Kehutanan. Jakarta: KLHK.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2016). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 86 Tahun 2016 tentang Perhutanan Sosial. Jakarta: KLHK.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2019). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 1561 Tahun 2019 tentang Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan antara PT. REKI dan KTH Maju Besamo. Jakarta: KLHK.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). (2021). Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2021 tentang Perhutanan Sosial. KLHK.

Larson, A. M. (2013). Tenure rights and access to forests: A review of current challenges and future research. Forest Policy and Economics, 36, 21–31. https://doi.org/10.1016/j.forpol.2013.04.005

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative data analysis: A methods sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Mitchell, B., Setiawan, B., & Rahmi, D. H. (2016). Pengelolaan sumber daya dan lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Monica, P., & Muhammad, I. (2023). Valuasi ekonomi kawasan Museum Adityawarman Kota Padang dengan metode biaya perjalanan (Travel Cost Method). Jurnal Ilmiah dan Pembangunan, 14(1), 45–56.

Nabela, R. N. L. S., Ramadhani, R., Agustina, A., Supriyadi, & Hilda, N. F. (2023). Analisis kesediaan membayar (Willingness to pay) wisatawan dalam upaya pengelolaan wisata pendakian Gunung Pundak, Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 7(2), 201–213.

Pasya, G. K. (2017). Konflik pengelolaan sumber daya hutan di Indonesia: Tantangan dan peluang penyelesaiannya. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan, 14(1), 15–28.

Priatna, D., Syaepuloh, I. L., & Ario, A. (2022). Perception and Awareness of Local Community to A “Green Wall” Forest Restoration Programme in the Gunung Gede Pangrango National Park, Indonesia. Asian Journal of Conservation Biology, 11(1), 77–83.

Refani, A., Sundawati, L., & Sanudin (2024). Dynamics of Farmer Groups in Private Forest and Social Forestry in Bandung Regency, West Java, Indonesia. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 21(1), 1–15.

Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN) 2011–2030. (2011). Rencana kehutanan tingkat nasional 2011–2030. Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.

Rochaedi, D. E., Priatna, D., & Rahayu, S. Y. S. (2021). Ecosystem Restoration Conservation Partnership As A Conflict Solution in the Gunung Halimun Salak National Park. Forestry Socio and Economic Research Journal, 18(3), 171–184

Santoso, H. (2021). Formalisasi tenurial dalam skema perhutanan sosial: Tantangan dan peluang. Jurnal Kebijakan Kehutanan Indonesia, 18(2), 123–138. https://doi.org/10.xxxx/jkki.2021.18.2.xxx

Silalahi, M. (2021). Kemitraan restorasi ekosistem: Resolusi konflik tenurial di Jambi. Bogor: CAPPA Keadilan Ekologi.

Silalahi, M. (2022, September 12). Wawancara mengenai perubahan sosial masyarakat Batin Sembilan pasca-kemitraan kehutanan [Interview].

Silalahi, M., & Erwin, A. (2015a). Konflik tenurial dan penyelesaian sengketa di kawasan restorasi ekosistem Jambi. Jurnal Hukum dan Kehutanan, 7(1), 45–63.

Silalahi, M., & Erwin, A. (2015b). Konflik tenurial dan solusi pengelolaan kolaboratif di Hutan Harapan, Sumatera. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan, 12(3), 241–256.

Siscawati, M. (2017). Pengantar resolusi konflik sumber daya alam. Jakarta: Sajogyo Institute.

Soemarwoto, O. (1983). Ekologi, lingkungan hidup dan pembangunan. Djambatan.

Suhardjito, D. (2000). Hutan dan masyarakat: Perubahan paradigma pengelolaan sumber daya alam. Bogor: Pustaka Latin.

Walsh, J., MacKinnon, K., & Verkoren, O. (2004). Ecosystem restoration concessions in Indonesia: A new approach to forest management. Journal of Forest Policy, 8(2), 123–136.

Yin, R. K. (2014). Case study research: Design and methods (5th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Zakaria, A. (2018). Reforma agraria: Perjalanan yang belum selesai. Jakarta: Konsorsium Pembaruan Agraria.

Zuhdi, M. (2018). Hukum adat Batin Sembilan dan pengelolaan sumber daya hutan di Jambi. Jambi: CAPPA Keadilan Ekologi.

Unduhan

Diterbitkan

2026-06-30

Cara Mengutip

Noor, R., Priatna, D., & Helmi. (2026). Addressing Tenurial Conflict through Forestry Partnership: A Case Study in Jambi Province, Indonesia : Menangani Konflik Tenurial melalui Kemitraan Kehutanan: Studi Kasus di Provinsi Jambi, Indonesia. Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam, 23(1), 19–46. https://doi.org/10.59465/jphka.v23i1.892