Pola Sebaran Hotspot di Taman Hutan Raya Raden Soerjo

Penulis

  • Hamam Asyrowi Program Studi Magister Silvikutur Tropika Institut Pertanian Bogor, Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Kampus Dramaga, Bogor, Indonesia 16680, Telp. (0251) 8626806
  • Bambang Hero Saharjo Departemen Silvikutur Tropika, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Kampus Dramaga, Bogor, Indonesia 16680, Telp. (0251) 8626806
  • Erianto Indra Putra Departemen Silvikutur Tropika, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Kampus Dramaga, Bogor, Indonesia 16680, Telp. (0251) 8626806

Kata Kunci:

Curah hujan, Hotspot, Kelerengan, Kebakaran hutan, Taman Hutan Raya Raden Soerjo

Abstrak

Kebakaran hutan merupakan salah satu faktor penyebab kerusakan hutan dan lahan di Indonesia. Kejadian kebakaran tidak hanya terjadi di Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera akan tetapi juga terjadi di Pulau Jawa, seperti di Jawa Timur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sebaran titik panas (hotspot) kebakaran hutan di Taman Hutan Raya Raden Soerjo (Tahura R. Soerjo) Jawa Timur. Metode analisis time series digunakan untuk mendapatkan informasi kebakaran yang terjadi di Tahura R. Soerjo dari tahun 2011- 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hotspot terjadi pada Juni sampai November dan mengalami kenaikan pada Agustus. Sebaran hotspot tersebut secara dominan terjadi pada daerah lereng yang landai dengan kemiringan 8-15% dan sebaran hotspot terendah pada daerah lereng yang curam dengan kemiringan 25-45%. Tiga implikasi dari penelitian ini yaitu sebaran hotspot dapat mengindikasikan adanya potensi kebakaran hutan di kawasan Tahura R. Soerjo, pola sebaran hotspot dapat dipetakan secara spasial dan temporal, dan mitigasi kebakaran dapat dilakukan berdasarkan pola sebaran hotspot baik secara spasial atau temporal di kawasan Tahura R. Soerjo

Referensi

Aflahah, E., Hidayati, R., Hidayat, R., & Alfahmi, F. (2018). Pendugaan hotspot sebagai indikator kebakaran hutan di Kalimantan berdasarkan faktor iklim. Journal of Natural Resources and Environmental Management, 9(2), 405-418.

Athoillah, I., Sibarani, R. M., & Doloksaribu, D. E. (2017). Analisis spasial El Nino kuat tahun 2015 dan La Nina lemah tahun 2016 (pengaruhnya terhadap kelembaban, angin dan curah hujan di Indonesia). Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, 18(1), 33-41.

Barbosa, M. R., Seoane, J. C. S., Buratto, M. G., Dias, L. S. de O., Raivel, J. P. C., & Martins, F. L. (2010). Forest Fire Alert System: A GeoWeb GIS prioritization model considering land susceptibility and hotspots - a case study in the Carajás National Forest, Brazilian Amazon. International Journal of Geographical Information Science, 24(6), 873-901. https://doi.org/10.1080/1365881090

3194264

Cahyono, S. A., Wasito, S. P., Andayani, W., & Darwanto, D. H. (2015). Faktor-faktor yang mempengaruhi kebakaran hutan di Indonesia dan implikasi kebijakannya. Jurnal Sylva Lestari, 3(1), 103-112.

Gunadi, G., Juniarti, J., & Gusnidar, G. (2020). Hubungan stok karbon tanah dan suhu permukaan pada beberapa penggunaan lahan di Nagari Padang Laweh Kabupaten Sijunjung. Jurnal Solum, 17(1), 1. https://doi.org/10.25077/jsolum.17.1.1-11.2020

Indarto, Soesanto, B., & Prasetyo, D. R. (2014). Pembuatan Digital Elevation Model (DEM) dengan ketelitian pixel (10x10 meter) secara manual di Sub-DAS Rawatamtu. AGROTEK,6(1), 78-89. https://doi.org/10.4135/9781412953962.n47

Indarto, Susanto, B., & Fakhrudin, A. N. (2012). Spatial distribution of wet and dry month in East Java Region. Agritech, 32(4), 432-445.

Irwandi, Jumani, & Ismail, B. (2016). Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan di Desa Purwajaya Kecamatan Loan Janan Kabupaten Kutai Kertanegara Kalimantan Timur. Jurnal Agrifor, 15(2), 201-210.

Istiqomah, N., Sitanggang, I. S., & Syaufina, L. (2018). Fire spot identification based on hotspot sequential pattern and burned area classification. Biotropia, 25(3), 147-155. https://doi.org/10.11598/btb.2018.25.3.676

Kementerian Pertanian. (1980). Kriteria dan Tata Cara Penetapan Hutan Lindung. SK Menteri Pertanian No,837, 1-15.

Kunarso, A., Syabana, T. A. A., Mareti, S., Azwar, F., Kharis, T., & Nuralamin, N. (2019). Analisis spasial tingkat kerusakan kawasan Suaka Margasatwa Padang Sugihan Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam, 16(2),191-206. https://doi.org/10.20886/

jphka.2019.16.2.191-206

Nabilah, F., Suprayogi, A., & Sukmono, A. (2017). Analisis pengaruh fenomena El Nino dan La Nina terhadap curah hujan tahun 1998-

2016 Menggunakan Indikator ONI (Oceanix Nino Index) (Studi kasus: Provinsi Jawa Barat). Jurnal Geodesi Undip, 7, 294-303.

Nurdiana, A., & Risdiyanto, I. (2015). Indicator determination of forest and land fires vulnerability using Landsat-5 TM data (Case study: Jambi Province). Procedia Environmental Sciences, 24, 141- 151. https://doi.org/10.1016/ j.proenv. 2015.03.019

Nurhayati, A. D., Aryanti, E., & Saharjo, B. H. (2010). Kandungan emisi gas rumah kaca pada kebakaran hutan rawa. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 15(2), 78-82.

Putra, A. K. (2015). Transboundary haze pollution dalam perspektif hukum lingkungan internasional. Jurnal Ilmu Hukum, 92-109.

Raharjo, A. P. (2019). Disaster risk analysis of forest and land fires in Serang Regency. Jurnal Sains dan Teknologi Mitigasi Bencana, 13(1),

1. https://doi.org/10.29122/jstmb. v13i1.2913

Rasyid, F. (2014). Permasalahan dan dampak kebakaran hutan. Jurnal Lingkar Widyaiswara, (4), 47-59.

Samsuri, S., Surati Jaya, I., & Syaufina, L. (2012). Spatial model of land and forest fire risk index, case study in Central Kalimantan Province. Foresta, 1(1), 12-18.

Sipongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2020). Rekapitulasi Luas Kebakaran Hutan dan Lahan (Ha) per Provinsi di Indonesia Tahun2015-2020 (Data s/d 30 September 2020). In Sipongi.Menklhk (Vol.2020). Retrieved from http://sipongi.menlhk.go.id/hotspot/luas_kebakaran#

Suryono. (2014). Pengaruh topografi pada kinerja pencegahan dan pengamanan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan dan lingkungan di Kota Manado. Media Matrasain, 11(1),66-77.

Syaufina, L. (2008). Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia; Perilaku, Penyebab, dan Dampak Kebakaran. Malang: Bayumedia Publishing.

Tacconi, L. (2003). Kebakaran hutan di Indonesia: penyebab, biaya dan implikasi kebijakan. In CIFOR Occasional Paper No. 38(i) (Vol.38). https://doi.org/10.17528/cifor/001200

Tata, M. H. L., & Pradjadinata, S. (2013). Regenerasi alami hutan rawa gambut terbakar dan lahan gambut terbakar di Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah dan implikasinya terhadap konservasi. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 10(3)327-342.

UPT Tahura R. Soerjo. (2014). Profil Kawasan Pelestarian Alam Taman Hutan Raya Raden Soerjo (Pelestarian Plasma Nutfah, Penelitian, Wisata Alam, Religi dan Penyedia Air Bersih). Malang: UPT. Tahura R. Soerjo Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur.

UPT Tahura R. Soerjo. (2018). Data Luas Kebakaran UPT. Tahura R. Soerjo Tahun 2006-2017. Malang.

Wibowo, A. (2005). Kerawanan kawasan hutan dan dampak kebakaran terhadap tegakan Pinus merkusii Jungh. et de Vriese di KPH Sumedang, Jawa Barat. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, 2(1), 1-9.

Yananto, A., & Dewi, S. (2016). Analisis kejadian El Nino tahun 2015 dan pengaruhnya terhadap peningkatan titik api di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Jurnal Sains & Teknologi Modifikasi Cuaca, 17(1), 11.https://doi.org/10.29122/jstmc.v17i1.544

Unduhan

Diterbitkan

2021-12-30

Cara Mengutip

Asyrowi, H., Hero Saharjo, B., & Indra Putra, E. (2021). Pola Sebaran Hotspot di Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam, 18(2), 151–165. Diambil dari https://ejournal.aptklhi.org/index.php/JPHKA/article/view/623

Artikel Serupa

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 > >> 

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.