Analisis Senyawa Metabolit Sekunder Ekstrak Daun Ruba Re’e dan Uji Aktivitasnya sebagai Pestisida Nabati
DOI:
https://doi.org/10.59465/jpht.v18i2.798Kata Kunci:
Hyptis suaveolens, metabolit sekunder, pestisida nabatiAbstrak
Ruba re’e (Hyptis suaviolens) merupakan salah satu jenis gulma yang biasanya digunakan oleh masyarakat Ende, Propinsi Nusa Tenggara Timur sebagai obat tradisional, sehingga tanaman ini berpotensi untuk digunakan sebagai pestisida nabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak daun H. suaviolens dan aktivitasnya sebagai pestisida nabati pada serangga uji Parmarion martensi. Variabel pengamatan pada penelitian ini adalah kandungan senyawa metabolit sekunder pada ekstrak daun H. suaviolens, mortalitas racun kontak, racun perut, lethal time (LT 50%) dan kecepatan kematian serta aktratan dan perilaku makan pada serangga uji P. martensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak murni daun H. suaviolens mengandung senyawa metabolit sekunder yang terdiri atas golongan senyawa alkaloid, flavonoid, dan tanin. Ekstrak daun tersebut memberikan efek racun bagi serangga uji P. martensi. Mortalitas tertinggi terjadi pada perlakuan ekstrak murni daun H. suaviolens yaitu 100% dalam waktu 10 menit untuk racun kontak dan 100% dalam waktu 240 menit (4 jam) untuk racun perut. Lethal time (LT50) tercepat juga terjadi pada perlakuan ekstrak murni daun H. suaviolens yaitu 10 menit dengan kecepatan kematian 10 menit/individu untuk racun kontak dan 120 menit dengan kecepatan kematian 2,64 jam/individu untuk racun perut. Oleh karena itu, ektrak daun tersebut efektif sebagai racun kontak bagi hama P. martensi. Hama ini berpotensi juga sebagai hama tanaman kehutanan khususnya mangrove di pembibitan yang menyebabkan kerusakan pada tanaman mangrove.
Referensi
Adriyani, R. (2006). Usaha pengendalian pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida pertanian. Jurnal kesehatan lingkungan, 3 (1), 95–106.
Agazali, F., Hoesain, M., & Prastowo, S. (2015). Efektivitas insektisida nabati daun tanjung dan daun pepaya terhadap mortalitas ulat grayak (Spodoptera litura F.). Berkala Ilmiah Pertanian, 1(1), 1–5.
Apriyanto, D. (2003). Koinsidensi dua spesies respo di sentra produksi. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia, 5(1), 7–11.
Asmaliyah, Utami, S., & Yudhistira. (2006). Efikasi beberapa jenis insektisida terhadap hama pemakan daun pada tanaman pulai darat. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 3(2), 83–91.
Gapoktan. (2009). Pengendalian Hama dan Penyakit dengan Pestisida Nabati. Retrieved from http://gapoktantanimaju.blogspot.com/2009/01/pestisida-nabati.html
Haneda, N.F dan Suheri, M. (2018). Hama mangrove di Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Jurnal Silvikultur Tropika, 9(1), 16-23
Harborne, A. (1998). Phytochemical methods a guide to modern techniques of plant analysis. In Indonesian Journal of Chemical Science. Springer Science & Business Media.
Harborne, J.B. (1998). Phytochemical Methods. A Guide to Modern Techniques of Plant Analysis. (Third). UK: Chapman & Hall.
Javandira, C., Widnyana, I.K., & Suryadarmawan, I.G.A. (2016). Kajian fitokimia dan potensi ekstrak daun tanaman mimba (Azadiracta indica A. Juss) sebagai pestisida nabati. Lembaga Penelitian Dan Pemberdayaan Masyarakat (LPPM) UNMAS Denpasar, 402–406.
Koneri, R., & Pontororing, H.H. (2016). Uji ekstrak biji mahoni (Swietenia
macrophylla) terhadap larva Aedes aegypti vektor penyakit deman berdarah. The Indonesian Journal of Public Health, 12(4), 216–223.
Lestari, F., & Darwiati, W. (2014). Uji efikasi ekstrak daun dan biji dari tanaman suren, mimba dan sirsak terhadap mortalitas hama ulat gaharu. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 11(3), 165–171. https://doi.org/10.20886/jpht.2014.11.3.165-171
Makal, H.V.G., & Turang, D.A.S. (2011). Pemanfaatan ekstrak kasar batang serai untuk pengendalian larva Crosidolomia binotalis Zell. pada tanaman kubis. Eugenia, 17(1), 16–20. https://doi.org/10.35791/eug.17.1.2011.95
Malangngi, L., Sangi, M., & Paendong, J. (2012). Penentuan kandungan tanin dan uji aktivitas antioksidan ekstrak biji buah alpukat (Persea americanaMill.). Jurnal MIPA, 1(1), 5. https://doi.org/10.35799/jm.1.1.2012.423
Maryam, S., Ekyastuti, W & Oramahi, A. (2018). Organisme perusak bibit mangrove (rhizophora stylosa) di areal persemaian mempawah mangrove park. Jurnal hutan lestari, 6(4), 848-855
Ningsih, D.R., Zusfahair, & Kartika, D. (2016). Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder Serta Uji Aktivitas Ekstrak Daun Sirsak Sebagai Antibakteri. 133(2015), 101–111.
Noer, S., Pratiwi, R.D., & Gresinta, E. (2018). Penetapan kadar senyawa fitokimia (tanin, saponin dan flavonoid) sebagai kuersetin pada ekstrak daun inggu (Ruta angustifolia L.). Jurnal Eksakta, 18(1), 19–29.
https://doi.org/10.20885/eksakta.vol18.iss1.art3
Rusandi, R., Mardhiansyah, M., & Arlita, T. (2016). Pemanfaatan ekstrak biji mahoni sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama ulat grayak (Spodoptera litura F.) pada pembibitan Acacia crassicarpa A. Cunn. ex Benth. Kazoku Syakaigaku Kenkyu, 28(2), 250–250.
https://doi.org/10.4234/jjoffamilysociology.28.250
Saenong, M.S. (2017). Tumbuhan Indonesia potensial sebagai insektisida nabati untuk mengendalikan hama kumbang bubuk jagung (Sitophilus spp.). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 35(3), 131. https://doi.org/10.21082/jp3.v35n3.2016.p131-142
Simorangkir, M., Ribu, S., Tonel, B., & Partomuan, S. (2017). Analisis fitokimia metabolit sekunder ekstrak daun dan buah Solanum blumei Nees ex Blume lokal. Jurnal Pendidikan Kimia, 9(1), 244–248.
Suhartini, S., Suryadarma, I., & Budiwati, B. (2017). Pemanfaatan pestisida nabati pada pengendalian hama plutella xylostella tanaman sawi (Brassica juncea L.) menuju pertanian ramah lingkungan. Jurnal Sains Dasar, 6(1), 36–43. https://doi.org/10.21831/jsd.v6i1.12998
Tampubolon, K., Sihombing, F.N., Purba, Z., Samosir, S.T.S., & Karim, S (2018). Potensi metabolit sekunder gulma sebagai pestisida nabati di Indonesia. Kultivasi, 17(3), 683–693. https://doi.org/10.24198/kultivasi.v17i3.18049
Utami, S., & Haneda, N.F. (2010). Pemanfaatan etnobotani dari Hutan Tropis Bengkulu sebagai Pestisida. Jurnal Manajemen Hutan Tropika, 16(3), 143–147. https://doi.org/10.7226/jtfm.16.3.%p
Yunita, E.A., Suparpti, N.H., & Hidayat, J.W. (2009). Pengaruh ekstrak daun teklan (Eupatorium riparium) terhadap mortalitas dan perkembangan larva Aedes aegypti. Bioma, 11(1), 11–17.
Zuraida, Sulistiyani, Sajuthi, D., & Suparto, I.H. (2017). Fenol, flavonoid, dan aktivitas antioksidan pada ekstrak kulit batang pulai (Alstonia scholaris R.Br). Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 35(3), 211–219. https://doi.org/10.20886/jphh.2017.35.3.211-219
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Lisensi
Hak Cipta (c) 2021 Jurnal Penelitian Hutan Tanaman

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.












