Perbedaan Komposisi Hutan Alam Produksi Pada Berbagai Umur Bekas Tebangan dan Lereng

Penulis

  • Lutfy Abdulah Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
  • Mira Yulianti Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

DOI:

https://doi.org/10.59465/jpht.v13i1.865

Kata Kunci:

Hutan bekas tebangan, kekayaan jenis, keragaman, nilai penting

Abstrak

Pengelolaan hutan alam produksi di Indonesia dihadapkan pada tekanan kelestarian pertumbuhan dan hasil. Jenis- jenis yang ditebang pada rotasi berikutnya mengalami penurunan baik potensi maupun permudaannya dan jenis- jenis non komersial akan dominansi di areal bekas tebangan. Tujuan penelitian adalah mengetahui dampak penebangan terhadap biodiversitas dan proyeksi permudaan alami. Metode yang digunakan adalah metode analisis vegetasi di LOA tahun 2002, 2003, 2012 dan 2013 dengan parameter kerapatan individu, frekuensi, dominansi pada berbagai level pertumbuhan, kekayaan jenis, keragaman jenis dan pengaruh kelerengan terhadap potensi tegakan tinggal dan permudaan alami. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 5 jenis komersial yaitu S. selanica BI, C. soulatry Burm., C. buruana Mig., E. papuana dan P. pinnata Forst. & Forst.. INP jenis komersil masih dikatakan baik meski jenis non komersil masih mendominasi LOA. Indeks kekayaan jenis dapat dikatakan baik namun indeks keragaman jenis tergolong rendah. Untuk itu perlu adanya perbaikan silvikultur dengan mempertimbangkan aspek biofisik melalui penanaman lahan tidak produktif dengan jenis-jenis komersil.

Referensi

Adekunle, V.A.J., Olagoke, A.O., dan Akindele, S.O. (2013). Tree species diversity and structure of a Nigerian strict nature reserve. Tropical Ecology, 54(3), 275-289.

Darwo. (2014). Sintesa hasil penelitian pengelolaanhutan alam produksi. Pusat Penelitian dan pengembangan Produktivitas Hutan. Bogor.

de Lucena, D.F., de Medeiros, P.M., Araujo, E.d., Alves, A.G., dan de Albuquerque, U.P. (2012).The ecological apparency hypothesis and the importance of useful plants in rural communities from Northeastern Brazil: an assessment based on use value. Journal of Environmental Management, 96,106-115.

Gemma, R., Ensslin, A., Hemp., A., dan Fischer, M. (2015). Forest structure and composition of previously selectively logged and non-logged Montane Forests at Mt. Kilimanjaro. Forest Ecology and Management, 337, 61-66.

Junaedi, A. (2007). Dampak pemanenan kayu dan perlakuan silvikultur Tebang Pilih Tanam

Jalur (TPTJ) terhadap potensi kandungan karbon dalam vegetasi hutan alam tropika. Tesis Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.

Knapp, E.E., Skinner, C.N., dan Malcolm, P.N. (2013). Long-term overstory and understory change following logging and fire exclusion in a Sierra Nevada mixed-conifer forest. Forest Ecology and Management.310, 903-914.

Latiff, I., dan Saiful, A. (2014). Composition, richness and diversity in a hill dipterocarp forest in Malaysia. Journal of Tropical Forest Science 26(2), 188-202.

Mandal, G. dan Joshi, S.P. (2014). Analysis of vegetation dynamics and phytodiversity from threedry deciduous forest of Doon Valey, Western Himalaya, India Journal of Asia Pasific Biodiversity.7, 292-304.

Muhdi. (2009). Struktur dan komposisi jenis permudaan hutan alam tropika akibat pemanenan kayu dengan sistem tebang pilih tanam Indonesia. , 11(1), 68-Jurnal Bionatura 79.

Nasution, A.K. (2009). Keterbukaan areal dan kerusakan tegakan tinggal akibat kegiatan penebangan dan penyaradan. Departemen Hasil Hutan. Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.

Nothdruft, A., Wolf, T., Ringeler, A., Bohner, J., dan Saborowski, J. (2012). Spatio-temporal prediction of site index based on forest inventories and climate change scenarios. Forest Ecology and Management. 279, 97-111.

Gaona, O.S., Kampichler, C., de Jong, B., Hernandez,S., Geissen, V., dan Huerta, E. (2010). A multicriterion Index for the evaluation local tropical forest conditions in Mexico. Forest Ecology and Management. 260, 618-627.

Prasetyo, E., HArdiwinoto, S., Supriyo, H., dan Widiyatno. (2015). Litter production of logged-over forest using Indonesia selective cutting system and strip planting (TPTJ) at PT. Sari Bumi Kusuma. Procedia Environmental Sciences, 28, 676-682

PT. GHL [Gema Hutani Lestari]. (2013). Revisi rencana kerja IUPHHK berbasis IHMB periode Tahun 2014-2023. Kabupaten Buru dan Buru Selatan.

Roe, J.H., dan Ruesink, A. (2006). Natural dynamics silviculture : a discussion of natural community based forestry practices. The Nature Concervancy.

Schofiled, K. (2015). Changes in forest structure and tree species composition after logging in tropical peat Swamp forest In Central Kalimantan, Indonesia. University of Aberdeen.

Singh, S., Malik, Z.A., dan Sharma, C.M. (2016). Tree species richness, diversity, and regeneration status in differentoak ( spp.) dominat-Quercus ed forests of Garhwal Himalaya, India. Journal of Asia-Pacific Biodiversity, 1-8.

Susetyo, R.K. (2009). Keadaan tegakan dan pertumbuhan Shorea spp. pada areal bekas tebangan dengan teknik silvikultur tebang pilih tanam Indonesia intensif. Bogor : Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan,IPB

Wicaksono, A. (2009). Struktur dan komposisi tegakan pada areal bekas tebangan dengan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ). Departemen Sivikultur, Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.

Widiyatno, Purnomo, S., Soekotjo, Naiem, M., Hardiwinoto, S., dan Kasmujiono. (2013). The growth of selected Shorea spp in secondary tropical rain forest: the effect of silviculture treatment to improve growth quality of Shorea spp. Procedia Environmental Sciences, 160-166.

Yam, G., dan Tripathi, O.P. (2016). Tree diversity and community characteristics in Talle Wildlife Sanctuary, Arunachal Pradesh, Eastern Himalaya, India. Journal of Asia-Pacific Biodiversity. 30, 1-6.

Unduhan

Diterbitkan

2016-06-30

Cara Mengutip

Abdulah, L., & Yulianti, M. (2016). Perbedaan Komposisi Hutan Alam Produksi Pada Berbagai Umur Bekas Tebangan dan Lereng. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 13(1), 23–35. https://doi.org/10.59465/jpht.v13i1.865