Potensi Akar Kuning (Fibraurea tinctoria Lour.) di Hutan Rawa Gambut, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah

Penulis

  • Titi Kalima Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

DOI:

https://doi.org/10.59465/jpht.v18i1.802

Kata Kunci:

Fibraurea tinctoria, Hutan Blok Release, Potensi

Abstrak

Hutan rawa gambut Kalimantan umumnya telah mengalami kerusakan karena adanya eksploitasi dan aktivitas manusia yang berlebihan. Tumbuhan akar kuning (Fibraurea tinctoria Laur.) dikenal sebagai obat  herbal yang digunakan secara tradisional oleh masyarakat Kalimantan Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi potensi, sebaran, dan asosiasi akar kuning di hutan Blok Release, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Pengambilan data dilakukan dengan cara inventarisasi dengan metode pengambilan contoh secara purposif, dibuat dua jalur transek dan peletakan jalur (transek) pada lokasi ditemukan tumbuhan akar kuning. Kemudian dibuat plot berukuran 5 m x 5 m dan 2 m x 2 m secara  selang seling sebanyak 80 plot dengan luasan 0,2 ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi Fibraurea tinctoria di hutan Blok Release adalah 375 individu/ha dan 675 individu/ha, dimana tingkat semai lebih dominan daripada tingkat pancang (40 individu/ha dan 70 individu/ha). Adapun pola sebaran akar kuning menyebar secara seragam atau teratur. Tingkat asosiasi menggunakan indeks Ochiai (OI), menunjukkan nilai kekuatan asosiasi yang terbesar dimiliki oleh Shorea balangeran dan Mangifera similis (OI = 0,63), kehadiran Freycinetia angustifolia memiliki tingkat asosiasi rendah (OI = 0,48-0,23) dan tingkat asosiasi terendah (OI = < 0,22) dtemukan pada 17 jenis. Jenis tumbuhan yang berasosiasi terhadap Fibraurea tinctoria  adalah tanaman yang berpotensi sebagai bahan baku obat. Informasi mengenai populasi, sebaran dan pola sebaran, serta asosiasi akar kuning, diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengelolaan akar kuning secara lestari di alam.

Referensi

Ahmed, T., Gilani, A.U.H., Abdollahi, M., Daglia, M., Nabavi, S.F., & Nabavi, S.M. (2015). Berberine and neurodegeneration: A review of literature. Pharmacological Reports, 67(5), 970 - 979. https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.pharep.2015.03.002

Amirta, R., Angi, E.M., Ramadhan, R., Kusuma, I.W., & Haqiqi, M.T. (2017). Potensi pemanfaatan macaranga. (Kiswanto, Ed.) (September). Samarinda: Mulawarman University Press.

Badan Planologi Kehutanan. (2007). Rencana induk (master plan) rehabilitasi dan konservasi kawasan pengembangan lahan gambut rehabilitasi dan konservasi kawasan pengembangan lahan gambut. pusat rencana dan statistik kehutanan. Jakarta: Departemen Kahutanan.

Brandon, K. (2014). Ecosystem services from tropical forests: review of current science (CGD Climate and Forest Paper Series #7 No. Working Paper 380). Washington, DC.

Brearley, F.Q., & Banin, L.F (2016). The Ecology of the Asian dipterocarps. Plant Ecol Divers, 9(5–6), 429–436. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.1080/17550874.2017.1285363

Broto, B. (2015). Struktur dan komposisi vegetasi habitat anoa (Bubalus spp.) di Hutan Lindung Pegunungan Mekongga, Kolaka, Sulawesi Tenggara. In Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia (pp. 615–620). Solo Jawa Tengah: Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah. https://doi.org/DOI:10.13057/psnmbi/m010339

de Bruyn, M., Stelbrink, B., Morley, R., Hall, R., Carvalho, G., Cannon, C., van den Bergh, G., Meijaard, E., Metcalfe, I., Boitani, L., Maiorano, L., Shoup, R., & Rintelen, A.T.W. (2014). Borneo and Indochina are major evolutionary hotspots for Southeast Asian Biodiversity. Systematic Biology, 63(6), 879-901.

Gaither, M.R. (2013). Origins of species richness in the Indo-Malay-Philippine biodiversity hotspot: evidence for the centre of overlap hypothesis. Journal of Biogeography, 40(9), 1638–1648. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/jbi.12126

Garsetiasih, R., Alikodra, H.S., Soekmadi, R., & Bismark, M. (2012). Potensi dan produktivitas habitat pakan banteng (Bos javanicus d’Alton 1832) di Padang Rerumputan Pringtali dan Kebun Pantai Bandealit Taman Nasional Meru Bbetiri Jawa Timur. Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam, 9(2), 113-123. Retrieved fromp3hka_pp@yahoo.co.id

Ghorbani, A., Langenberger, G., Feng, L.,& Sauerborn, J. (2011). Ethnobotanical study of medicinal plants utilised by Hani ethnicity in Naban River Watershed National Nature Reserve, Yunnan, China. Journal Ethnopharmacol, 134(3), 651667. https://doi.org/DOI:10.1016/j.jep.2011.01.011

Govaerts. (2001). World Checklist of SeedPlants Database in ACCESS E-F: 150919. Retrieved May 4, 2020, from http://plantsoftheworld.onlin /taxon/urn:lsid:ipni.org:names:269371#bibliography.

Hidayat, S., Helmanto, H., Danang, D., Purnomo, W., & Supriyatna, I. (2018). Habitat of Nepenthes spp. in the area of Sampit Botanic Gardens, Central Kalimantan, Indonesia. Biodiversitas, 19(4), 1258-1265. https://doi.org/DOI:10.13057/biodiv/d190411

Indartik. (2009). Potensi pasar pulai sebagai sumber bahan baku industri obat herbal studi kasus Jawa Barat dan Jawa Tengah. Jurnal Penelitian Sosial Dan Ekonomi Kehutanan, 2(2), 159-165.

Kalima, T., & Denny. (2019). Komposisi jenis dan struktur hutan rawa gambut Taman Tasional Sebangau, Kalimantan Tengah. Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam, 16(1),51-72. https://doi.org/HTTPS://DOI.ORG/1020886/PHKA.201916.1.51-72

Kalima, T., Suharti, S., Sumarhani, & Trethowan, L. (2020). Tree species diversity and etnobotany of degraded peat swamp forest in Central Kalimantan. Reinwardtia, 19(1), 2754. https://doi.org/DOI:10.14203/reinwardtia.vl9il.3819.

Karmilasanti, & Fajri, M. (2020). Struktur dan komposisi jenis vegetasi di hutan sekunder: Studi Kasus KHDTK Labanan Provinsi Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 17(2), 69-85 ISSN: 1829-6327, E-ISSN: 2442

Kartawinata, K. (2010). Dua abad mengungkap kekayaan flora dan ekosistem indonesia.

Krebs, C.J. (1989). Ecological Methodology. (1st ed.). USA: Haeper and Publisher. New York.

Leksono, B. (2010). Teknik penunjukan dan pembangunan sumber benih. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Lestariningsih, N., & Setyaningsih, D. (2017). Explorative study of tropical pitcher plants (Nepenthes sp.) types and insects that trapped inside in Sebangau National Park Palangka Raya Central Kalimantan. Journal of Physics: Conf. Series, 795, 1-8. https://doi.org/doi:10.1088/17426596/795/1/012062

Ludwig, J.A., & Reynolds, J. (1988). Statistical ecology: a primer on methods & computing (1st ed.). John Wiley & Sons, Inc.605 Third Ave. New York, United States.

Mayasari, A., Kinho, J.,& Suryawan, A. (2012). Asosiasi eboni (Diospiros spp.) dengan jenis-jenis pohon dominan di Cagar Alam Tangkoko, Sulawesi Utara. Info BPK Manado, 2(1), 55–72.

Mohfar, R. (2012). Struktur tegakan dan sebaran jenis ramin dan meranti di hutan rawa gambut (studi kasus PT. Diamond Raya Timber dan PT Riau Andalan Pulp and Paper, Provinsi Riau. Retrieved from http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/61716

Mueller-Dombois, D & Ellerberg, H. (1974). Aims and methods of vegetation ecology. Canada. Retrieved from https://www.researchgate.net/publication/259466952

Noorcahyati, Sulandjari, & Dewi, W.S. (2016). Asosiasi akar kuning (Fibrourea tinctoria) dengan tumbuhan berpotensi obat di Samboja, Kalimantan Timur. Jurnal Hutan Tropis Volume, 4(3), 232–239.

Nurhaida, F.H., Usma., & Tavita, G.E. (2015). Studi etnobotani tumbuhan obat di Dusun Kelampuk, Kecamatan Tanah Pinoh Barat, Kabupaten Melawi. Jutan Lestari, 3(4), 526 – 537.

Nursanti, Novriyanti, & Wulan, C. (2018). Ragam jenis tumbuhan obat potensial di areal Hutan Kota Muhammad Sabki kota Jambi. Media Konservasi, 23(2),169-177.

Ordonez, J.C., Luideling, E., Kindt, R.,Tata, H.L., Harja, D., Jamnadass, R., & Van Noordwijk, M. (2014). Constraints and opportunities for tree diversity management along the forest transition curve to achieve multifunctional agriculture. Current Opinion in Environmental Sustainability, 6, 54–60. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.101 /j.cosust.2013.10.009

Page, S.E., Rieley, J.O., Shotyk, W., & Weiss, D. (1999). Interdependence of peat and vegetation in a Tropical Peat Swamp Forest. Philosophical transactions of the royal society of London. Series B, Biological Sciences, 354(1391), 85–97. https://doi.org/https://doi.org/10.1098/ rstb.1999.0529

Puspanti, A., Widuri, S. A., Noorcahyati, Wibisono, & Rengku, M. (2019). Populasi dan asosiasi akar kuning (Fibraurea tinctoria Lour.) di KHDTK Samboja, Kalimantan Timur. In: Tata, M.H.L. (Ed.), Bunga rampe pengembangan hasil hutan bukan kayu Indonesia untuk mendukung bunga rampai sustainable development goals (1st ed., pp. 125-140). Bogor: IPB Press.

Putri, D. H., Herwina, R., Satria, & Handru, A. (2013). Jenis-jenis semut (Hymenoptera: Formicidae) pada tumbuhan Macaranga spp. (Euphorbiaceae) di Hutan Pendidikan dan Penelitian Biologi Universitas Andalas. In Semirata FMIPA Universitas Lampung (pp. 217–221). Lampung: Universitas Lampung.

Rinaldi, S.E., Suryanto, & Widuri, S.A. (2017). Informasi perdagangan akar kuning di Pasar Tradisional Martapura dan Pasar Tradisional Rantau, Kalimantan. Jurnal Sains Dan Kesehatan, 1(8), 434-439. https://doi.or /https://doi.org/10.25026/jsk.v1i8.58

Robiansyah, I. (2020). Shorea balangeran. https://doi.org/https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.20201.RLTS.T33103A68072336.en

Roy, B., & Giri, B.R. (2016). Carex baccans Nees, an anthelmintic medicinal plant of Northeast India. In Birla Kshetrimayum (Ed.), Medicinal Plants and its Therapeutic Uses (Junuari, pp. 2–22). USA: OMICS Group eBooks.

Setyawati, A. (2015). Struktur histologi hati, ginjal dan pankreas mencit (Mus Musculus) dengan perlakuan ekstrak batang akar kuning (Fibraurea tinctoria L.) selama organogenesis. Retrieved from htps://repository.ipb.ac.id/bitstream/h andle/123456789/79166/2015ase.pdf? sequence=1& %0A isAllowed=y%0A

Sinaga, E., Tobing, I.S.L., & Pravita, R.V. (2016). Pemanfaatan tumbuhan obat oleh Suku Dayak Iban Di Dusun Meliau Kalimantan Barat. Global Science Publishing House.

Sirami, C., Caplat, P., Popy, S., Clamens, A., Arlettaz, R., Jiguet, F., Brotons, L., & Martin, J.L. (2016). Impacts of global change on species distributions: obstacles and solutions to integrate climate and land use. Global Ecology and Biogeography,. https://doi.org/DOI:10.1111/geb.12555

Soerianegara, I., & Indrawan, A. (2008). Ekologi hutan Indonesia. (1st ed.). Bogor: Institue Pertanian Bogor.

Susila, I.W.W., Setiawan, O., & Hidayatullah, M. (2019). Potensi dan habitat tempat tumbuh ketak (Lygodium circinnatum (Burn. F.) Swartz) di Lombok. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman 16(2), 103-114. ISSN: 1829-6327, E-ISSN: 2442-8930

Tata, H.L., & Pradjadinata, S. (2016). Native species for degradaded peat swamp forest rehabilitation. Silvikultur Tropika, 7(3), 80-82.

Tudjuka, K., Ningsih, S, & Toknok, B. (2014). Keanekaragaman jenis tumbuhan obat pada ragam jenis tumbuhan obat potensial kawasan hutan lindung di Desa Tindoli, Kecamatan Pamona Tenggara, Kabupaten Poso. Warta Rimba, 2(1), 120-128.

Turjaman, M., Faulina, S.A., Aryanto., Najmulah., Yani, A., & Hidayat, A. (2019). Isolasi, indentifikasi, dan pemanfaatan fungi yang berasosiasi dengan Tristaniopsis obovata. JurnalPenelitian Hutan dan Konservasi Alam, 16(1), 73-90. Retrieved from http://ejournal.forda-mof.or /ejournallitbang/index.php/JPHKA

Unduhan

Diterbitkan

2021-06-30

Cara Mengutip

Kalima, T. (2021). Potensi Akar Kuning (Fibraurea tinctoria Lour.) di Hutan Rawa Gambut, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 18(1), 13–34. https://doi.org/10.59465/jpht.v18i1.802