Pertumbuhan Dua Klon Karet Asal Bibit Okulasi di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan

Penulis

  • Jamin Saputra Pusat Penelitian Karet Sembawa

DOI:

https://doi.org/10.59465/jpht.v18i1.801

Kata Kunci:

Klon, Bibit karet, Kesesuaian lahan, lilit batang

Abstrak

Klon tanaman karet memiliki daya adaptasi yang berbeda-beda, sehingga tidak ada klon karet yang unggul di semua lokasi penanaman. Oleh karena itu karakteristik agroklimat pada areal penanaman tanaman karet diperlukan untuk menentukan kelas kesesuaian lahannya sebelum penanaman karet secara luas dilaksanakan. Penelitian bertujuan untuk menguji pertumbuhan kombinasi klon (IRR 112 dan IRR 118) dan jumlah payung daun bibit karet (payung dua dan payung tiga) selama masa tanaman belum menghasilkan (TBM). Penanaman dilakukan di Kebun Percobaan Pusat Penelitian Karet, Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Penentuan kelas kesesuaian lahan dilakukan berdasarkan data tanah dan data iklim. Pertumbuhan klon diamati berdasarkan pengukuran lilit batang pada 500 pohon sampling untuk setiap kombinasi klon-jumlah payung. Pengukuran pertumbuhan dilakukan setiap tahun sampai dengan umur lima tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit karet klon IRR 112 dengan jumlah payung tiga merupakan bibit karet yang terbaik dan pada umur lima tahun telah menghasilkan 81% batang matang sadap. Bibit karet tersebut dianjurkan ditanam pada lahan dengan kelas kesesuaian lahan sesuai (S2) di dataran rendah pada jenis tanah Ultisol.

Referensi

Adiwiganda, Y.T., Hardjono, A., Manurung, A., Sihotang, U.T.B.D., Sudiharto, Goenadi, D.H., & Sihombing, H. (1994). Teknik penyusunan rekomendasi pemupukan tanaman karet. Forum Komunikasi Karet, 1–17.

Aidi-Daslin. (2011). Evaluasi pengujian lanjutan klon karet IRR seri 200 pada masa tanaman belum menghasilkan. Jurnal Penelitian Karet, 29(2), 93–101.

Aidi-Daslin. (2014). Perkembangan penelitian klon karet unggul IRR seri 100 sebagai penghasil lateks dan kayu. Warta Perkaretan, 33(1), 1–10.

Alwi, N., & Aidi-Daslin. (1990). Laporan mengenai pengujian klon pertukaran internasional 1974. Prosiding Lokakarya Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 1990, 243–249.

Amypalupy, K. (2012). Pembuatan bahan tanam; saptabina usahatani karet rakyat dalam (Lasminingsih, M, Suryaningtyas, H, Nancy, C, & Vachlepi, A. (eds.); VI). Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet.

Boerhendhy, I., & Amypalupy, K. (2011). Optimalisasi produktivitas karet melalui penggunaan bahan tanam, pemeliharaan, sistem eksploitasi, dan peremajaan tanaman. Jurnal Litbang Pertanian, 30(1), 23–30.

Boerhendhy, I., Agustina, D.S., & Setiono. (2012). Paket teknologi karet untuk mempersingkat masa tanaman belum menghasilkan kurang dari empat tahun. Prosiding Konferensi Nasional Karet, 269–278.

Boerhendhy, I. (2013). Prospek perbanyakan bibit karet unggul dengan teknik okulasi dini. Jurnal Litbang Pertanian, 32(2), 85–90.

Budiningsih, K., & Effendi, R. (2012). Analisis finansial hutan tanaman campuran meranti merah (Shorea spp.) dan karet rakyat (Hevea brasiliensis) di Hinas Kiri Kalimantan Selatan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 9(4), 233–240.

Chanana, Y.R., & Gill, M.I.S. (2008). General Horticulture Propagation and Nursery Management. Department of Horticulture. Punjab Agricultural University.

Hadi, H., Afifah, E., Prasetyo, N.E., & Atmojo, L. (2012). Prospek teknik okulasi dini dalam penyediaan bibit karet klonal. Konferensi NasionalKaret 2012, 39–45.

Junaidi, Atminingsih, & Siagian, N. (2014).Pengaruh jenis mata entres dan klon terhadap keberhasilan okulasi danpertumbuhan tunas pada okulasi hijau di polibeg. Jurnal Penelitian Karet,32(1), 21–30.

Kuswanhadi, & Herlinawati, E. (2018). Penyadapan tanaman karet. Dalam Vachlepi, A, Sahuri, Ismawanto, S., Stevanus, C,T, & Aji, M. (Eds.), Saptabina Usahatani Karet Rakyat (8th ed., p. 105). Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet.

Sahuri. (2020). Peningkatan pertumbuhan dan hasil karet melalui sistem tumpang sari berbasis karet. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 17(1), 27–40.

Saputra, J., Ardika, R., & Wijaya, T. (2014). Pengaruh pupuk hayati mikoriza terhadap efisiensi pupuk anorganik pada tanaman karet (Hevea Brasiliensis). Dalam: Salah, E., Hower, H, Sasanti, A.D, Puspitahati, M.I., Syafutri, Yulisman, & Yosi, F. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional dalam Rangka Dies Natalis ke-51 Fakultas Pertanian UNSRI. Tema : Mewujudkan ketahanan pangan dalam menghadapi pasar bebas ASEAN. (pp. 237–244). Fakultas Pertanian UNSRI.

Saputra, J., & Stevanus, C.T. (2015). Evaluasi pertumbuhan tanaman karet belum menghasilkan klon PB 260 pada daerah kelas kesesuaian iklim S1 dan S2. Prosiding Seminar Nasional Dies Natalis Ke-52 Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, 717–724.

Sayurandi, Suhendry, I., & Pasaribu, S.A. (2014). Pengujian adaptasi beberapa klon karet pada masa tanaman belum menghasilkan. Jurnal Penelitian Karet32(1), 1–9.

Siagian, N., & Bukit, E. (2015). Komparasi teknis dan finansial pengadaan benih melalui okulasi tanaman di polyba dengan okulasi di lapangan. Warta Perkaretan, 34(2), 115–126.

Sugiyanto, I., Sihombing, H., & Darmandono. (1998). Pemetaan agroklimat dan tingkat kesesuaian lahan perkebunan karet. Prosiding Lokakarya Nasional Pemuliaan Kare1998 dan Diskusi Nasional Prospe Karet Alam Abad 21, 201–222.

Suhendry, I. (2001). Pertumbuhan dan produktivitas tanaman karet pada beberapa tipe iklim. Jurnal PenelitianKaret, 19(1–3), 18–31.

Watson, W.A. (1989). Climate and soil. In C. Webster & W. Baulkwill (Eds.), Rubber, Tropical Agriculture Series (pp. 125–164). Longman group.

Wijaya, T. (1996). Penerapan program komputer untuk estimasi potensi pertumbuhan tanaman berdasarkan ketersediaan air tanah. Informatika Pertanian, 6(1), 343–352.

Wijaya, T. (2008). Kesesuaian tanah dan iklim untuk tanaman karet. Warta Perkaretan, 30(2), 33–34.

Wijaya, T., & Hidayati, U. (2012). Pemupukan. Dalam: Lasminingsih, M, Suryaningtyas, H, Nancy, C, & Vachlepi, A. (Eds.), Saptabina Usahatani Karet Rakyat (6th ed.). Balai Penelitian Sembawa.

Unduhan

Diterbitkan

2021-06-30

Cara Mengutip

Saputra, J. (2021). Pertumbuhan Dua Klon Karet Asal Bibit Okulasi di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, 18(1), 1–12. https://doi.org/10.59465/jpht.v18i1.801